Nahnu Du'at Qobla Kully Syai'

Blogs, Ternyata menulis itu menyenangkan. Apalagi bisa menulis sesuatu yang bisa memberikan manfaat terhadap diri sendiri dan orang lain. Telah datang perintah membaca kepada umat Islam, perintah yang tidak diturunkan untuk umat-umat sebelumnya..sedangkan menulis adalah salah satu turunan dari kewajiban membaca... "Sampaikanlah walau hanya satu ayat.", begitulah perintah nabi, dan menulis bisa menjadi sebuah sarana yang baik untuk mengaplikasikan perintah untuk menyampaikan... ---Tulabi---

Thursday, July 27, 2006

LIQOAT : Ma'rifatul Islam (Mengenal Islam)

Assalamualaikum. Memasuki hari-hari penuh dengan kesibukan, jadi satu pekan ini insya Allah ana meliburkan diri terlebih dahulu dari blog untuk memfokuskan fikiran pada pekerjaan, rutinitas tutup buku bulanan.

Hari ini ana ingin mengajak antum untuk bersama berbicara tentang Al-Islam.Tulisan yang diambil dari Kumpulan catatan pinggir ana, semoga bisa memberikan manfaat kepada kita semua..

dari segi bahasa, Islam berasal dari kata aslama yang berakar dari kata salama. Kata Islam merupakan bentuk mashdar (infinitif) dari kata aslama ini. Ditinjau dari segi bahasanya yang dikaitkan dengan asal katanya, Islam memiliki beberapa pengertian, diantaranya adalah:

1. Berasal dari ‘salm’ yang berarti damai. Dalam al-Qur’an Allah SWT berfirman “Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. 8 : 61)

Kata ‘salm’ dalam ayat di atas memiliki arti damai atau perdamaian. Dan ini merupakan salah satu makna dan ciri dari Islam, yaitu bahwa Islam merupakan agama yang senantiasa membawa umat manusia pada perdamaian. Dalam sebuah ayat Allah SWT berfirman :

Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mu'min berperang maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah; jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. 49 : 9)

Sebagai salah satu bukti bahwa Islam merupakan agama yang sangat menjunjung tinggi perdamaian adalah bahwa Islam baru memperbolehkan kaum muslimin berperang jika mereka diperangi oleh para musuh-musuhnya. Dalam Al-Qur’an Allah berfirman: “Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu.” (QS. 22 : 39)

2. Berasal dari kata ‘aslama’ yang berarti menyerah. Hal ini menunjukkan bahwa seorang pemeluk Islam merupakan seseorang yang secara ikhlas menyerahkan jiwa dan raganya hanya kepada Allah SWT. Penyerahan diri seperti ini ditandai dengan pelaksanaan terhadap apa yang Allah perintahkan serta menjauhi segala larangan-Nya. Menunjukkan makna penyerahan ini, Allah berfirman dalam al-Qur’an: “Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya.” (QS. 4 : 125)

Sebagai seorang muslim, sesungguhnya kita diminta Allah untuk menyerahkan seluruh jiwa dan raga kita hanya kepada-Nya. Dalam sebuah ayat Allah berfirman: “Katakanlah: "Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. 6 : 162)

Karena sesungguhnya jika kita renungkan, bahwa seluruh makhluk Allah baik yang ada di bumi maupun di langit, mereka semua memasrahkan dirinya kepada Allah SWT, dengan mengikuti sunnatullah-Nya. Allah berfirman: “Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan.” (QS. 3 : 83)

Oleh karena itulah, sebagai seorang muslim, hendaknya kita menyerahkan diri kita kepada aturan Islam dan juga kepada kehendak Allah SWT. Karena insya Allah dengan demikian akan menjadikan hati kita tentram, damai dan tenang (baca; mutma’inah).

3. Berasal dari kata istaslama–mustaslimun: penyerahan total kepada Allah. Dalam Al-Qur’an Allah berfirman (QS. 37 : 26) “Bahkan mereka pada hari itu menyerah diri.”

Makna ini sebenarnya sebagai penguat makna di atas (poin kedua). Karena sebagai seorang muslim, kita benar-benar diminta untuk secara total menyerahkan seluruh jiwa dan raga serta harta atau apapun yang kita miliki, hanya kepada Allah SWT. Dimensi atau bentuk-bentuk penyerahan diri secara total kepada Allah adalah seperti dalam setiap gerak gerik, pemikiran, tingkah laku, pekerjaan, kesenangan, kebahagiaan, kesusahan, kesedihan dan lain sebagainya hanya kepada Allah SWT. Termasuk juga berbagai sisi kehidupan yang bersinggungan dengan orang lain, seperti sisi politik, ekonomi, pendidikan, sosial, kebudayaan dan lain sebagainya, semuanya dilakukan hanya karena Allah dan menggunakan manhaj Allah. Dalam Al-Qur’an Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. 2 : 208)

Masuk Islam secara keseluruhan berarti menyerahkan diri secara total kepada Allah dalam melaksanakan segala yang diperintahkan dan dalam menjauhi segala yang dilarang-Nya.

4. Berasal dari kata ‘saliim’ yang berarti bersih dan suci. Mengenai makna ini, Allah berfirman dalam Al-Qur’an (QS. 26 : 89): “Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” Dalam ayat lain Allah mengatakan “(Ingatlah) ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci.” (QS. 37: 84)

Hal ini menunjukkan bahwa Islam merupakan agama yang suci dan bersih, yang mampu menjadikan para pemeluknya untuk memiliki kebersihan dan kesucian jiwa yang dapat mengantarkannya pada kebahagiaan hakiki, baik di dunia maupun di akhirat. Karena pada hakekatnya, ketika Allah SWT mensyariatkan berbagai ajaran Islam, adalah karena tujuan utamanya untuk mensucikan dan membersihkan jiwa manusia. Allah berfirman: “Allah sesungguhnya tidak menghendaki dari (adanya syari’at Islam) itu hendak menyulitkan kamu, tetapi sesungguhnya Dia berkeinginan untuk membersihkan kamu dan menyempurnakan ni`mat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.” (QS. 5 : 6)

5. Berasal dari ‘salam’ yang berarti selamat dan sejahtera. Allah berfirman dalam Al-Qur’an: Berkata Ibrahim: "Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan meminta ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku". (QS. 19 : 47)

Maknanya adalah bahwa Islam merupakan agama yang senantiasa membawa umat manusia pada keselamatan dan kesejahteraan. Karena Islam memberikan kesejahteraan dan juga keselamatan pada setiap insan.

Adapun dari segi istilah, (ditinjau dari sisi subyek manusia terhadap dinul Islam), Islam adalah ‘ketundukan seorang hamba kepada wahyu Ilahi yang diturunkan kepada para nabi dan rasul khususnya Muhammad SAW guna dijadikan pedoman hidup dan juga sebagai hukum/ aturan Allah SWT yang dapat membimbing umat manusia ke jalan yang lurus, menuju ke kebahagiaan dunia dan akhirat.’

Definisi di atas, memuat beberapa poin penting yang dilandasi dan didasari oleh ayat-ayat Al-Qur’an. Diantara poin-poinnya adalah:
1. Islam sebagai wahyu ilahi Mengenai hal ini, Allah berfirman “Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur'an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. 53 : 3-4)

2. Diturunkan kepada nabi dan rasul (khususnya Rasulullah SAW) Membenarkan hal ini, firman Allah SWT Katakanlah: "Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma`il, Ishaq, Ya`qub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, `Isa dan para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan hanya kepada-Nya-lah kami menyerahkan diri." (QS. 3 : 84)

3. Sebagai pedoman hidup. Allah berfirman (QS. 45 : 20) Al Qur'an ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini.

4. Mencakup hukum-hukum Allah dalam Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW “Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS. 5 : 49-50)

5. Membimbing manusia ke jalan yang lurus. “Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.” (QS. 6 : 153)

6. Menuju kebahagiaan dunia dan akhirat "Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan". (QS. 16 : 97)

Wallahualambishowab.

---Tulabi---

Thursday, July 20, 2006

Palestina, Inilah sikap kami..

Assalamualaikum.

Khaibar khaibar ya Yahud ! Zaisu Muhammad saufa ya’ud ! Khaibar khaibar ya Yahud ! Zaisu Muhammad saufa ya’ud !

Terasa sangat menyesakkan dada ketika melihat betapa banyak kepedihan yang terjadi di tanah palestina, dengan arogannya kaum yahudi menembakkan peluru-peluru mereka tanpa pandang bulu, terasa ada iba yang mengalir disela-sela perasaan terhadap nasib palestina yang sedang diamuk yahudi terlaknat, sungguh terlaknatlah yahudi..

"Telah dila'nati orang-orang kafir dari Bani israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas."
(Qs Al-Maa’idah:78)


Teringat ana dengan seorang cendekia muslim bangsa mesir, Ialah Ali Abdur Razig, seorang ulama dan hakim mahkamah syari’ah mesir yang membuat tulisan kontroversi di tahun 1925 yang akhirnya membuat dirinya disidang oleh suatu majelis ulama mesir yang terdiri dari 24 orang dan langsung diketuai oleh Syeik Al-Azhar dan akhirnya menghasilkan keputusan tidak diakui lagi Ali Abdur Razig sebagai seorang ulama dan memecatnya dari jabatan hakim.

Diantara pokok pemikiran Ali Abdur Razig didalam tulisannya adalah ;Menempatkan syariat islam semata-mata bersifat spitual, tanpa ada kaitannya dengan pemerintahan dan kekuasaan eksekutif (Pemikiran ini sejalan dengan gelombang gerakan kaum liberalisme saat itu dan sekarang ini yang memisahkan kehidupan duniawi dengan urusan agama), yang kedua adalah pemikirannya yang mengatakan bahwa perang (jihad) yang dilakukan oleh Rasulullah Saw dan para sahabat dulu adalah dengan alasan “Perluasan Jajahan”, dan bukan sama sekali demi agama atau untuk menyebarkan agama, sedang yang tekahir adalah dengan mengatakan bahwa pemerintahan abu bakar dan khalifah rasyidin sesudahnya bukanlah pemerintahan agama.

Namun tidak dalam kesempatan ini, tidak ingin ana berbicara tentang mereka kaum liberal yang telah mempelajari islam dengan nafsu mereka, dan tidak ingin juga dalam kesempatan ini ana mengajak antum untuk “berbicara” tentang mereka orang-orang “islam barat” yang belajar dan mengambil pendapat hukum islam menurut para ilmuwan barat dan bukan dari para ulama islam.. namun saat ini ada sebuah keinginan yang kuat didalah hati ana untuk mengajak antum semua “berbicara” tentang sebuah masalah pokok umat islam saat ini, tentang perseteruan hak dengan yang batil, perihal tanggung jawab besar umat islam, dan tentang pembuktian rasa cinta kita terhadap sesama muslim sebagai tanda keimanan kita dan juga sebagai wujud kemuliaan islam.

Keputusan majelis ulama mesir terhadap Ali Abdur Razig akhirnya pada tahun selanjutnya didukung oleh hasil kongres dunia Islam di Kairo, dan secara bersama kongres inipun mulai menyadari arti penting dari sebuah khalifah yang harus ditegakkan guna melindungi hak-hak kaum muslimin agar tidak seenaknya saja bisa diobrak-abrik oleh bangsa barat (Penghapusan kekhalifaan Turki Utsmani pada oktober 1924), dan kemudian menghasilkan salah satu point untuk “Mempertahankan daerah dan milik islam”. Tentang Pentingnya khalifah ini, Imam Hasan Al Banna pernah berucap "Ketahuilah bahwa syariat adalah dasar,dan raja adalah penjaga. Sesuatu yang tidak berdasar akan runtuh, dan sesuatu yang tidak terjaga pasti hiang."

Kekalahan Kekhalifaan Turki Utsmani dari pasukan Inggris (Yang dibantu Perancis, Rusia dan juga Arab Saudi-Syarif Husein, penguasan mekkah yang berhasil dibujuk inggris untuk keluar dari Utsmaniyyah, dan dijanjikan Pan-Arab yang akan dipimpinnya, namun akhirnya Syarif Husein juga dikhianati Inggris dan Prancis) pada tahun 1918, menyebabkan Pembagian kekuasaan antara inggris dan prancis terhadap wilayah-wilayah kekuasaan Utsmaniyyah, Inggris mendapatkan Irak dan Palestine sedang Prancis mendapatkan Siria, sedang apa yang didapatkan Syarif Husein…? Tidak ada selain kekecewaan rakyatnya yang akhirnya menurunkannya dari tahta dan digantikan putranya Ali, yah setali tiga uang, seperti juga bapaknya akhirnya Ali pun juga dapat “diturunkan” oleh gerakan wahabi (Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab yang berasal dari Najd).

Beberapa tahun setelah peristiwa ini, tepat lima tahun setelah dihapusnya kekhalifaan Turki utsmani dari peta kekuatan dunia (Tahun 1929), Terjadilah bentrokan pertama dalam sejarah konflik Palestina dengan Yahudi, dimana Yahudi dipersenjatai oleh Inggris. Secara kronologis terjadinya perpindahan bangsa Yahudi ke Tanah Palestina adalah ; Pertama, Ketika mulai semakin mengkristalnya gagasan-gagasan untuk menegakkan sebuah Negara untuk orang-orang yahudi (Negara Yahudi) yang ditulis didalam sebuah buku oleh Theodore Hertzel pada tahun 1896. Kedua, diselenggarakan konfrensi Zionis internasional pada tahun setelahnya (1897) yang kemudian pada akhirnya menyepakati berdirinya Negara yahudi di Palestina. Ketiga, Sultan Hamid II dari Turki kemudian didekati agar orang-orang Yahudi bisa berziarah dan menetap di Yerusalem, dan sebagai gantinya mereka akan membangunkan armada bagi Turki, juga melunasi hutang-hutang Turki kepada bangsa Arab, namun usaha mereka ini akhirnya gagal. Keempat, Pada tahun 1917 Lord Balfour (Perdana Menteri Inggris) mengeluarkan sebuah deklarasi yang pada intinya akan membangun sebuah “National Home” untuk orang-orang Yahudi di Palestina, sedangkan hak-hak bangsa selain Yahudi tidak akan dirugikan. Kelima, Setelah Turki mengalami kekalahan dari Inggris, Prancis dan dibantu Arab, maka PBB ketika itu (tahun 1922) memberikan mandat kepada Inggris atas tanah Palestina, dan pada akhirnya bangsa Yahudi pada tahun 1948 memproklamirkan Negara Yahudi di tanah Palestina.

Lalu bagaimana seharusnya sikap kita terhadap permasalahan ini..? Kalau ada orang yang mengatakan bahwa Masalah palestina adalah masalah Intern orang-orang Palestina.. Maka dengan tegas kita harus mengatakan “Tidak..!!” itu tidak benar…

Masalah Palestina bukan hanya masalah rakyat Palestina semata, namun merupakan permasalahan Pokok umat Islam saat ini. Semua permasalahan global umat islam saat ini bermula dari Perselisihan Palestina dengan Yahudi.

Ana masih mengingat benar apa yang dikatakan Imam Syahid Hasan Al banna didalam buku-bukunya.. Bahwa Yang disebut Tanah Air Islam adalah setiap jengkal tanah yang didalamnya ada orang-orang muslim..maka kita berkewajiban menjaga hak-haknya…Berbeda dengan orang-orang nasionalis, misalnya mereka (Nasionalis) berjuang mati-matian demi Negara indonesia karena mereka dilahirkan di indonesia, Namun kaum muslimin memiliki konsep kesatuan aqidah, mereka tidak hanya akan berperang dan berjuang mati-matian untuk Indonesia saja, tidak akan berhenti sampai disitu saja, namun mereka pun akan melakukan hal yang sama terhadap setiap tanah dan Bangsa islam yang lain. Apa yang dipahami oleh Islam adalah bahwa setiap daerah yang didalamnya terdapat orang muslim, maka kewajiban kita semua untuk membebaskannya dari penindasan, ketidakadilan, penjajahan, imprealisme, dan sebagainya…

Lihatlah Para sahabat Rasulullah dan kaum salafy setelah rasulullah, yang tinggalnya di pojok-pojok masjid merasa tidak puas hanya dengan kemedekaan negaranya, kemuliaan kaumnya dan kebebasan bangsanya saja., akan tetapi mereka menjelajahi bumi melancong keberbagai Negara sebagai perintis dan guru untuk memerdekakan bangsa-bangsa lain. Membimbing kearah cahaya Allah, mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Mereka tidak sama sekali menipu, tidak zalim dan tidak pula bertindak sewenang-wenang apalagi memperbudak. Tidaklah para salafy zaman itu, pergi melancong kenegeri-negeri lain, adalah untuk mendapatkan harta atau kemewahan dunia lainnya, namun sebagai penyelamat umat manusia kepada Cahaya Allah Swt. Ini lah yang dipahami oleh mereka para pendahulu kita…

Konsep atau pemikiran Imam Syahid ini kemudian di sebut konsep Geopolitik. Yang didasarkan pada surat Al-Baqarah ayat 193 “ Dan Perangilah mereka itu sehingga tidak ada Fitnah lagi, sehingga agama itu hanyalah untuk Allah belaka…” Maka sudah semestinya kita memberikan apa saja yang bisa kita berikan agar para muslimin Palestina tidak lagi di perlakukan dengan seenaknya, agar anak-anak muslim palestina juga bisa merasakan kemerdekaan sesungguhnya, agar terbukti kepada Allah, Rasul dan orang-orang beriman bahwa kita juga memiliki rasa cinta dan sayang terhadap sesama muslim..

Wallahualambishowab.

Pekanbaru, 20 Juli 2006

Monday, July 17, 2006

"Blog, Kenapa Harus Menulis.?"

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman,
(yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam sembahyangnya,
dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi syurga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.” (Qs Al-Mu’minuun:1-11)


Assalamualaikum.

Ba’da Tahmid dan Sholawat.
Tentang seseorang yang datang untuk mengunjungi pembangunan sebuah masjid. Ketika tiba dilokasi pembangunan masjid, kemudian sang pengunjung ini menyempatkan diri untuk bertanya kepada para pekerja pembangunan masjid yang kala itu sedang larut dalam pekerjaannya. Masing-masing pekerja didatangi, satu persatu, kemudian pada pekerja pertama, sang pengunjung tadi pun bertanya “Bapak, apa yang sedang bapak kerjakan saat ini?” Pekerja yang saat itu sedang mengaduk semen dengan pasir ketika ditanyapun kemudian menjawab “Oh..saya sedang membuat campuran semen dengan pasir pak”.. Kemudian sang pengunjung tadi mendatangi pekerja lainnya dan bertanya dengan pertanyaan yang sama “Apa yang sedang bapak lakukan.?” Sang pekerja kedua ini pun menjawab “Saya sedang menata batu bata pak..” karena memang pada saat itu sang pekerja tadi sedang memasang batu bata ke tembok. Kemudian sang pengunjung tadi bertanya kembali kepada pekerja yang lainnya juga dengan pertanyaan yang sama “Bapak, apa yang sedang bapak kerjakan.?” Pekerja yang ditanyapun dengan segera menjawab “Saya sedang mengecat tembok luar pak..” dan karena memang pekerja yang ditanya tadi sedang mengecat tembok bagian luar masjid.

Masing-masing pekerja didatangi oleh sang pengunjung tadi, dan merekapun ditanyai dengan pertanyaan yang sama, satu-persatu..dan merekapun memberikan jawaban tentang apa yang sedang mereka kerjakan sesuai dengan pekerjaan mereka saat itu..ada yang menjawab sedang mengecat, ada yang sedang mengaduk semen, dan lain sebagainya…kemudian tibalah pada seorang pekerja terakhir yang dengan sedikit uban dirambutnya menunjukkan usianya yang sudah lanjut. Kemudian pengunjung ini pun bertanya kepadanya masih dengan pertanyaan yang sama “Bapak, apa yang sedang bapak lakukan.?” Sambil terdiam sejenak, kemudian bapak pekerja tadipun menjawab “Nak, Saya sedang membangun sebuah peradaban…” Subhanallah, Jawaban yang sangat berbeda jika dibandingkan dengan jawaban-jawaban daripada pekerja-pekerja pembangunan masjid yang lain. Lalu apakah yang menjadi maksud dan latar belakang sehingga jawaban dari pekerja terakhir ini terdengar lain ditelinga kita..? kemudian sang pengunjung yang bertanyapun diam-diam memahami maksud dari jawaban bapak pekerja terakhir ini, bahwa beliau memahami bahwa yang sedang dikerjakan saat itu bukan hanya sekedar membangun sebuah bangunan masjid, atau membangun sebuah fisik bangunan yang tidak memiliki arti, atau hanya memandang bahwa pekerjaannya hanya sekedar memasang bata, atau sekedar mengecat, dsb. Namun jawaban pekerja terakhir ini menunjukkan jauhnya pemikiran, cita dan visi yang dimiliki olehnya, berfikir jauh kedepan, bahwa diwaktu yang akan datang. Masjidlah yang nantinya akan menjadi pusat pandidikan dan pengembangan islam, dari masjid-masjid inilah islam akan disebarluaskan keseluruh pelosok negeri, dari masjid-masjid inilah para pemuda-pemudi islam akan dibentuk kepirbadiaannya, sehingga karakter peradaban masa depan, sangat dipengaruhi oleh keberadaan masjid-masjid yang nantinya akan menjadi markas sekaligus madrasah bagi pemuda-pemudi islam penerus peradaban. Sungguh sebuah pemikiran yang jauh ke depan, yang hanya bisa dipikirkan oleh mereka yang hidup dengan cita-cita besar, hanya dapat dipikirkan oleh orang-orang yang hidup dengan kepercayaan optimis terhadap masa depan..

Ini hanyalah sebuah ilustrasi, yang dengan ini ana ingin menunjukkan bahwa sudah seharusnya setiap kita seorang muslimpun memiliki cara pandang yang sama dalam setiap hal, cara pandang yang berorientasi jauh ke depan, cara pandang yang menjadikan Allah Swt sebagai tujuan awal dan sekaligus akhir dari kehidupan, dan menjadikan akhirat sebagai tujuan pemberhentian terakhir, sebagaimana yang disampaikan rasulullah, bahwa manusia yang cerdas adalah manusia yang senantiasa mengingat hari kemudian (Kematian).

Lalu apa hubungannya dengan Judul tulisan ini “Blog, Kenapa harus menulis.?” Ana teringat dalam sebuah dialog manja antara ana dan istri beberapa hari yang lalu, didalam hangatnya canda dan sejuknya cinta, ada satu pembahasan yang kami bicarakan dalam waktu yang lama, pembicaraan tentang ketika mulai muncul kekhawatiran didalam hati tentang perasaan riya’ dan ta’ajub yang bisa ditimbulkan salah satunya melalui tulisan-tulisan yang kita buat di blog., Kekhawatiran bahwa yang timbul adalah perasaan ingin “diperhatikan” orang lain melalui tulisan-tulisannya, Kekhawatiran jangan sampai timbul perasaan-perasaan lan selain “Menyampaikan Haq” atau nasihat-menasihati dalam kesabaran dan kebenaran.

Mungkin kemudian nanti akan ada yang mengetakan “Ah, itu sih tergantung orangnya masing-masing..” Adalah sebuah jawaban yang tidak keliru, namun senantiasa saling mengingatkan diantara kita agar tetap beristiqomah didalam Al-Haq, dan juga nasihat-menasihati agar terkumpul kembali semangat menyebarkan kebenaran, semua ini adalah lebih baik dan utama.

Sesungguhnya apa yang menjadi tujuan kita menulis, terutama di blog, sudah seharusnya juga sebagaimana ilustrasi kehidupan diatas, bahwa hanyalah berorientasi jauh kedepan, berorientasi kepada Allah Swt, sehingga tidak menjadi sia-sialah apa yang kita kerjakan. Sebagaimana salah satu ciri orang yang beriman didalam suran Al-Mu’minuun yang ana kutip diatas adalah menjadi orang yang menjauhi perkataan dan perbuatan yang sia-sia, dan yang sia-sia itu adalah segala sesuatu yang tidak diorientasikan kepada Allah, namun kepada keinginan-keinginan remeh, fana, rapuh dan duniawi yang hanya akan dirasakan sekejap jua tak berbekas.

Ikhwati Fillah, Ingatlah selalu bahwa salah satu alat yang bisa digunakan sebagai pengukur seberapa produktif kah seorang kader dakwah, maka ini dapat dilihat dari seberapa besar pula pengaruh pemikiran yang bisa dia sampaikan kepada orang lain, terutama orang-orang yang berada “disekelilingnya”, atau seberapa besar lingkaran nashrul Fikroh (Penyebaran pemikiran) yang dapat dia lakukan didalam masyarakatnya. Misalnya, kader dakwah yang berada dikantor, seberapa besar pengaruh pemikiran-pemikiran islami kita terhadap teman-teman sekantor, dll. Maka dengan menulis tentang kebenaran dengan sendirinya akan dapat menyebarkan pemikiran-pemikiran islami kita kepada masyarakat luas.

Karena dengan orientasi-orientasi inilah seharusnya kita memulai “menggoreskan mata-mata pena” kita dimana saja, karena dengan orientasi-orientasi jangka panjang inilah seharusnya kita memulai setiap aktivitas kita, dan karena dengan orientasi-orientasi keabadian inilah seharusnya kita memulai setiap pagi hari, dengan hanya berharap kepada Allah Swt, atas Ridho dan Barokahnya.

“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan” (Qs Huud:15-16)

Wallahualambishowab.

Pekanbaru, 17 Juni 2006

Wednesday, July 12, 2006

Juklak (Petunjuk Pelaksanaan) Nikah

Assalamualaikum.

“Jatuh Cinta..Berjuta indahnya….”

Akhir-akhir ini sepertinya intensitas ana meluangkan waktu untuk menulis menjadi semakin sering (maklum waktu luang jauh dari istri digunakan untuk menulis..) , namun kemudian belakangan ini sering terasa juga bahwa yang ana tulis sering kali hal-hal yang mungkin terlalu serius dan mungkin juga kita akan membutuhkan sedikit kerutan didahi untuk dapat memikirkannya, kali ini ana insya Allah mencoba membuat tulisan yang dengan tetap serius namun mengambil topik yang “Seru..” yang biasanya selalu dibicarakan orang banyak, tentang masalah lama yang selalu aktual, tentang masalah yang selalu ingin kita dengarkan.. ah itulah cinta.

Sepertinya….syair lagu yang mengagungkan cinta seperti diatas rasanya tidak akan pernah ada “mati” nya walaupun jaman terus berganti-ganti.. Begitulah adanya cinta, semenjak dulu cerita tentang kisah cinta memang tidak akan pernah selesai dibicarakan orang, selalu saja kisahnya berulang-ulang, namun tetap juga laris manis bak kacang goreng.. Mulai dari roman terkenal Romeo dan Juliet karya sheakspear, sampai cerita cinta lokal indonesia antara Galih dan Ratna.. Ceritanya selalu sama..hanya lakonnya saja yang berbeda..namun, sekali lagi…, tetap saja laris..

Namun sepertinya akan menjadi terlalu sia-sia dan membuang tenaga kalau saat ini ana juga menceritakan tentang cerita cinta klasik seperti diatas dan memperpanjang sejarahnya, dan juga masih akan terasa sia-sia andai kita masih juga terbawa dengan gaya dan cara mencinta seperti orang-orang yang tidak mengenal islam dengan baik. Kata siapa islam tidak mengenal Cinta..?oooww jangan salah, Islam sangat mengenal Cinta…Sangat dalam..sangat dalam. Lihat saja didalam al-Quran Allah menyampaikan tentang cinta dan kasih sayang..

“Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti kemauanmu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu mendapat kesusahan, tetapi Allah menjadikan kamu 'cinta' kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus” (Qs.Al Hujarat:7)

Kali ini ana lebih senang mengajak antum untuk berbicara tentang bagaimana kita bisa melegal formalkan rasa cinta dengan aturan yang telah ditetapkan oleh Allah Swt, Yaitu melalui sebuah lembaga pernikahan yang mulia, yang didalamnya teradapat niatan yang suci untuk beribadah kepada Allah, yang dilandasi dengan semangat islam serta kekuatan aqidah yang lurus. Maka disanalah akan muncul rasa cinta yang sejati, yang Allah berikan kepada Setiap orang yang beriman dan beramal saleh.

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang (Qs Maryam:96)

Seringkali ana menemui ikhwan yang mengeluh sudah ingin menikah namun belum berani untuk melakukannya karena “Merasa” bahwa masih belum cukup mampu untuk “menghidupi” istrinya nanti.. “Bener nda sih..?” ana jadi ragu sebenarnya dengan kebanyakan orang yang mengeluh seperti ini, kalau ana lihat dari usianya, sepertinya sudah cukup lah.. dari kemampuan financial yang dimiliki.. sepertinya kebanyakan ikhwan itu juga sudah banyak juga yang telah memiliki maisyah yang menjanjikan. Kurang apa lagi ya kira-kira..? hmm.. ada juga sih sebagian yang memiliki masalah dengan keluarganya, namun ana kira orang tua mana sih yang tidak menginginkan anaknya yang sudah cukup umur untuk segera menikah..? sepertinya masalah yang terakhir ini hanyalah masalah teknis di lapangan lah… Pada hal kan dengan jelas Allah Swt telah memberikan Quarante (Jaminan) penghidupan kepada setiap orang yang ingin menikah karena-Nya “Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu dan orang-orang yang layak(berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (Pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui”. (An Nuur: 32). Rasulullah juga telah memberikan arahan kepada kita “Wahai para pemuda! Barang siapa diantara kalian berkemampuan untuk nikah, maka nikahlah, karena nikah itu lebih mudah menundukkan pandangan dan lebih membentengi farji (kemaluan). Dan barang siapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia puasa, karena puasa itu dapat membentengi dirinya." (HSR. Ahmad, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasaiy, Darimi, Ibnu Jarud dan Baihaqi).

Nah, bagi yang skarang sudah siap untuk menikah, Insya Allah ada sedikit pengalaman yang mungkin bisa ana bagi-bagi disini, tentang Apa saja sih tahapan-tahapan dalam menuju pernikahan yang syar’i..

1. Langkah paling awal dalam setiap amalan adalah niat, tetapkan niat dengan sungguh, ikhlaskan setiap upaya dan doa, tujukan hanya kepada Allah Swt... Sesungguhnya awal yang baik akan memberikan hasil yang baik pula bagi kita..

2. Langkah kemudian adalah tentu saja mencari jodoh dong..:) kalau belum ada calonnya bagaimana bisa nikahnya..:D. Mencari calon ini bisa dengan berbagai cara-cara yang baik seperti dicarikan melalui guru ngaji, atau orang-orang sholih lainnya, atau mencari sendiri juga nda masalah, selama masih terjaga adab-adab pergaulan ikhwan-akhwat dalam berhubungan. Namun satu hal yang pasti ingin ana sampaikan dalam menjalani masa-masa penantian, bahwa senantiasalah meminta kepada Allah dengan keyakinan dan keikhlasan, niscaya Allah Swt akan mengabulkannya, karena ini sudah janji-Nya, maka kita harus dengan pasti meyakininya ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina’ ”. (Al Mu’min : 60).

3. Meminta pertimbangan, nah hal ini jangan dilupakan, terutama meminta pertimbangan kepada Allah Swt melalui sholat istikharah. Sebenarnya sholat istikharah ini bukan hanya ditujukan untuk meminta pertimbangan dalam masalah jodoh, namun juga setiap masalah dalam kehidupan agar tidak terjatuh didalam penderitaan hidup. Kemudian selain itu, perlu juga agar meminta nasihat dan pertimbangan kepada orang-orang yang sholih dan berilmu, seperti guru ngaji, atau juga orang-orang tua yang telah memiliki pengalaman dalam masalah ini.

4. Ta'aruf (Perkenalan). Seringkali akan timbul pertanyaan "Apa saja yang dilakukan (Ditanyakan) ketika ta'aruf?" Sebenarnya tidak ada sebuah aturan baku dan standar tentang ta'aruf ini, hanya saja memang ada beberapa tujuan dari proses ta'aruf ini, diantaranya adalah agar masing-masing calon suami dan istri dapat mengenalkan, mengetahui dan kemudian memahami tentang kepribadian masing-masing, kemudian juga menyepakati tentang hal-hal yang menjadi perencanaan dimasa depan (Misal, sang calon suami ingin seorang istri yang bisa menerima kedua orang tuanya yang nanti akan tinggal bersama mereka kalau ditakdirkan menikah, maukah calon istrinya? ), dan juga tujuan-tujuannya yang lain. Lalu apa saja sih yang ditanyakan? Segala hal yang ingin diketahui sebelum melanjutkan ke jenjang pernikahan, Misal tentang komitmen keislaman dari keduanya (ini adalah komitmen pokok yang harus dimiliki), tentang keluarga besar, dan hal-hal lainnya yang dibutuhkan oleh masing-masing. sebuah catatan, Bahwa Ta'aruf itu tidak menentukan apa-apa, selain perkenalan. Jagalah proses ini sebaik-baiknya, ta'aruf bukan berarti telah boleh untuk saling telpon-telponan, sms-sms yang mungkin rasanya tidak perlu, apalagi sampai lebih dari ini, Jagalah proses ini sebaik-baiknya, niscaya Allah akan memberikan kebahagiaan yang sejati diantara suami istri sebagaimana telah Allah janjikan kebahagian dan ketentraman hati suami istri didalam Al-Quran yang suci surat Ar-Ruum:21 "Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir" Allah Jaminannya, ana dan istri sebagai saksi dan buktinya..:)

5. Kalau telah mantabb hatinya, maka Khitbahlah. Kata yang memiliki makna paling mendekati dengan khitbah dalam bahasa indonesia mungkin adalah “meminang”. Datang kepada orangtua atau wali sang calon istri dan kemudian mengungkapkan isi hati untuk menikahi anaknya. Namun ada beberapa catatan dalam khitbah ini, ada dua jenis wanita yang tidak boleh di khitbah. Yang pertama adalah wanita wanita yang secara syar’i tidak boleh (Haram) dipinang, seperti wanita yang masih mahram dan juga wanita yang masih dalam masa iddah/baru ditinggal suami. Sedang yang kedua adalah wanita yang pada saat itu telah dipinang oleh orang lain, karena Rasulullah Saw telah memberikan penjelasannya didalam hadits yang diriwayatkan oleh kebanyakan ahli hadits “Dari Uqbah bin Amir radiyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: "Orang mukmin adalah saudara orang mukmin yang lain. Maka tidak halal bagi seorang mukmin menjual barang yang sudah dibeli saudaranya, dan tidak halal pula meminang wanita yang sudah dipinang saudaranya, sehingga saudaranya itu meninggalkannya."

6. Melihat wanita yang dipinang. Nah dalam masalah ini diperbolehkan untuk melihat terlebih dahulu wanita yang akan dipinang, walaupun ada sebagian orang yang mungkin ingin menjaga ketulusan niatnya untuk menikah sehingga tidak ingin melihat terlebih dahulu calon istrinya sampai akad nikah, namun pendapat ana bahwa hal ini adalah terlalu berlebih-lebihan, sedang berlebih-lebihan ini tidak disukai oleh Allah dan Rasul-Nya. "Apabila salah seorang di antara kalian meminang seorang wanita, maka apabila ia mampu hendaknya ia melihat kepada apa yang mendorongnya untuk menikahinya." Jabir berkata: "Maka aku meminang seorang budak wanita dan aku bersembunyi untuk bisa melihat apa yang mendorong aku untuk menikahinya. Lalu aku menikahinya." (HR. Abu Daud dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani). Namun ada catatan juga nih dalam keringanan yang diberikan oleh Allah kepada kita ini, yaitu tidak sampai berdua-duan (Berkahalwat) tanpa mahram.

7. Akad Nikah. Eng ing eng... show time nya nih. J Beberapa hal yang sepertinya perlu untuk diketahui dalam hal akad nikah ini.
a. Tidak adanya keterpaksaan diantara kedua calon, keduanya sama-sama sadar dengan konsekuensi yang akan diambilnya, dan kemudian mengikhlaskan bahwa hanya Allah sajalah yang di harapkan keridhoan-Nya.
b. Ijab Qabul. Dari segi bahasa, Ijab itu mengungkapkan atau menyatakan dengan perkataan, sedang Qabul itu menerima. Sehingga secara istilah Ijab Qabul itu adalah menyatakan sesuatu kepada lawan bicara dan kemudian diterima. Diriwayatkan dalam sebuah hadits bahwa: Sahl bin Said berkata: "Seorang perempuan datang kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam untuk menyerahkan dirinya, dia berkata: "Saya serahkan diriku kepadamu." Lalu ia berdiri lama sekali (untuk menanti). Kemudian seorang laki-laki berdiri dan berkata: "Wahai Rasulullah kawinkanlah saya dengannya jika engkau tidak berhajat padanya." Lalu Rasulullah shallallahu alaih wa sallam bersabda: "Aku kawinkan engkau kepadanya dengan mahar yang ada padamu." (HR. Bukhari dan Muslim).
c. Mahar, atau bahasa kita Mas Kawin. Ini adalah salah satu cara islam memuliakan wanita. Besarnya mas kawin tidak ditentukan, hanya kesepakatan antara kedua calon dengan kemampuan yang dimiliki. Dari Uqbah bin Amir, bersabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam: "Sebaik-baik mahar adalah yang paling ringan." (HR. Al-Hakim dan Ibnu Majah, shahih, lihat Shahih Al-Jamius Shaghir 3279 oleh Al-Albani).
d. Wali. Ini adalah syarat wajib yang harus dipenuhi, didalam suatu kesempatan Rasulullah Saw berkata "Tidaklah sah suatu pernikahan tanpa wali."
e. Saksi. Sama seperti wali, adanya saksi adalah syarat sahnya pernikahan, seperti perkataan Rasulullah "Tidak sah suatu pernikahan tanpa seorang wali dan dua orang saksi yang adil." (HR. Al-Baihaqi dari Imran dan dari Aisyah, shahih).

8. Walimah. Alhamdulillah akhirnya selesai sudah urutan dan langkah-langkah yang harus ditempuh. Sebenarnya walimah ini bertujuan agar sebagai pemberitahuan kepada kerabat bahwa kedua pasangan telah resmi menikah dan menghindari fitnah dikemudian hari.

Alhamdulillah, semoga pernikahannya barokah. Nah kalau antum sudah dapat membaca sampai pada tulisan ini, maka percayalah antum sudah memiliki sedikit ilmu sebagai bekal dan siap untuk menuju ke tahap pernikahan. Maka persiapkanlah segalanya, semoga Allah Tabaraka wata’ala memudahkan urusan kita didunia dan diakhirat.

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”. (Ar Ruum : 21)

“Barang siapa menikah, maka ia telah melengkapi separuh dari agamanya. Dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi. (HR. Thabrani dan Hakim).

Wallahualambishowab.

Pekanbaru, 14 Juli 2006
Tulabi---

Saturday, July 08, 2006

Diantara Ospek Dan Nasib Bangsa..

Assalamualaikum.

Alhamdulillah, Tak terasa ternyata sudah hampir satu tahun berlalu ana meninggalkan kampus dengan segala aktivitasnya. Dan Tulisan ini khusus ana tujukan kepada kalian para agen-agen perubahan, jiwa-jiwa yang membaharu yang dipenuhi dengan semangat ilahi. Kepada kalian para mahasiswa yang mengabdikan dirinya untuk umat, kepada kalian yang datang membawa risalah Muhammad dengan berpegang kepada kitabullah. Hidup Mahasiswa..

Sebentar lagi kampus kita akan kembali diwarnai dengan "gegap gempita" Orientasi mahasiswa baru, dan seperti biasanya kita akan mulai sibuk masing-masing untuk mempersiapkan kedatangan adik-adik baru kita yang akan bergabung bersama-sama kita dalam sebuah"keluarga ilmiah" yang kita sebut kampus. Tulisan ini hanya sebuah penyemangat dan penyegaran tentang mengapa kita harus mempersiapkan segalanya dengan baik dalam menyambut kedatangan mahasiswa baru dikampus kita, termasuk kenapa harus menyiapkan “ospek" dengan baik.

Ada banyak sekali difinisi dari ospek seandainya ditanyakan kepada setiap orang. mungkin akan ada yang mengatakan bahwa ospek adalah acara perkenalan mahasiswa baru dengan para "pendahulu"nya, atau juga mungkin ada yang mengatakan bahwa ospek adalah sebuah ajang perpeloncoan dan pembodohan yang tidak ada gunanya, atau mungkin akan ada juga yang menjawab bahwa ospek hanyalah ajang untuk mencari "pasangan" dan TP-TP (Tebar Pesona) dari para senior...

Ana kira kita tidak akan langsung menyalahkan atau menyanggah semua jawaban ini, karena kitapun akan dapat memahami bahwa jawaban tentang ini sangat relatif karena sangat tergantung dari sudut pandang yang berbeda-beda, perbedaan definisi ini bisa saja terjadi dikarenakan perbedaan pemahaman, ilmu, persepsi, maupun tujuanseseorang atas ospek ini sendiri..

Namun ana ingin mengajak antum semua untuk berfikir, membayangkan dan merasakan sesuatu yang lebih jauh dari jawaban-jawaban "kemungkinan" tentang ospek diatas,Terlepas dari semua jawaban ini, maka ana akan sangat yakin untuk mengatakan kepada antum bahwa ospek bukan hanya suatu acara yang sekedar untuk TP-TP atau balas dendam tak beralasan senior kepada juniornya, atau ajang perkenalan saja,atau apalah.. Namun dengan keyakinan yang penuh akan ana katakan bahwa ospek adalah salah satu "mata rantai" dari proses program"membangun peradaban" kita.

Bagaimana bisa definisi ospek difikirkan hingga sejauh itu.? Ikhwati fillah, Kita telah mengetahui dan membuktikan sendiri melalui sejarah-sejarah pergerakan, bahwa "Siapa" yang bisa "menguasai" kampus hari ini, maka diapun akan bisa menguasai negara ini 10 atau 20 tahun yang akan datang. hal ini dapat terjadi dikarenakan kampus selama ini telah memainkan perannya sedemikian baik dalam menciptakan orang-orang yang nantinya akan disiapkan sebagai pemimpin, baik hanya sekedar pemimpin diri sendiri maupun untuk menjadi pemimpin dari sebuah negara juga bangsa, kemudian konsep inilah yang selama ini sering kita sebut dengan konsep "iron stock".

Ikhwati Fillah, sehingga ketika kita bersama telah memahami tentang pentingnya peran kampus dalam memainkan perannya sebagai "Area Pabrikasi" pemimpin bangsa, maka seharusnya juga seiring dengan pemahaman ini kita bisa dengan sendirinya menempatkan ospek sebagai salah satu mata rantai proses "penciptaan" pemimpin, dan pemimpin dengan versi kita tentunya.

Mungkin suatu waktu kita perlu membahas tentang Profil seorang pemimpin dalam islam, namun sedikit Membahas tentang yang ana maksud dengan "Pemimpin versi kita" adalah yang ana dasarkan kepada ayat “Patuhilah Allah, Patuhilah Rasul, dan ulil amrimingkum", kata amr didalam bahasa arab adalah kata perintah, sehingga ulil amri mingkum adalah pemimpin/pemerintah yang taat kepada Allah dan rasul. Sehingga kriteria paling utama bagi seorang "pemimpin versi kita" yang ana maksud adalah pemimpin yang taat kepada Allah dan juga Rasul-Nya.

Didalam proses "Membangun peradaban" kita ini, kampus telah mengambil peranan yang cukup signifikan,dan seharusnya tidak kita nafikkan juga bahwa Ospek adalah salah satu "mata rantai" dari proses"penciptaan" pemimpin di kampus.

jika kita mau melihat ospek dari tujuan dan pemahaman yang ini, maka sudah semestinya bagi kita untuk dapat menggunakan Ospek sebagai sebuah "ajang potensial" perekrutan calon pemimpin yang dikemudian hari akan kita kader,bina,kita pebuhi dengan bekal-bekal kepemimpinan dan kemudian di hari yang lain akan kita "karyakan"..

Jika kita mau melihat ospek dari tujuan dan pemahaman ini, maka sudah semestinya kita juga menjadikan ospek sebagai sebuah sarana perekrutan yang efektif..

Jika kita mau melihat ospek dari tujuan dan pemahaman ini, maka sudah semestinya kita mengerahkan segenap pikiran dan tenaga untuk all out dalam melakukan perekrutan calon pemimpin ini..

Sebagian orang yang memahami bahwa ospek adalah hanya sebagai sebuah ajang perpeloncoan dan pembodohan mahasiswa baru ataupun hanya sebagai sebuah ajang mencari pasangan "main-main" telah membuat acara ospek ini terlihat buruk dalam pandangan kebanyakan orang, sehingga kita pun tidak bisa memungkiri kalau banyak juga orang yang Fobi terhadap acara ospek ini, karena merasa takut terjadi kekerasan didalamnya. Sehingga Telah menjadi kewajiban kita untuk memberi warna "cerah" dalam pelaksanaan ospek kampus, dan mematahkan praduga orangtua mahasiswa tentang betapa rusak dan kerasnya pelaksanaan ospek di kampus. dan menjadi tanggungjawab kita juga untuk bisa kembali membuktikan keampuhan dari ospek dalam proses mencari jiwa-jiwa potensial masa depan, dan tentu saja cara-cara yang kita gunakan didalamnya adalah yang ahsan dan halal dalam perekrutan.

Maka persiapkanlah segala perencanaan, persiapan dan stamina untuk menyambut kedatangan adik-adik baru kita, yang kita harapkan akan menjadi pendukung dari perjuangan menuju penegakan nilai-nilai wahyu. Janganlah sampai Ospek kali ini hanya menjadi sia-sia, jangan lewatkan kesempatan baik dan peluang besar untuk merekrut "penerus" perjuangan kita dalam menegakakan Islam seutuhnya. .

Selamat datang para penerus bangsa, ditangan kalianlah nasib umat bangsa ini dimasa yang akan datang, maka baik dan buruknya penerus ini akan menentukan baik dan buruknya masa diakan datang..

Semoga bermanfaat, Seperti kata iklan "Kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah anda.."Karena kesan pertama ospek begitu membekas..Karena kesan pertama terasa berbeda..Karena kesan pertama sulit untuk dilupakan.


Wallahualam bishowab.

Wednesday, July 05, 2006

Toleransi itu untuk menjaga diantara kita


Assalamualaikum.

Bismillahi tawakaltu alallah, Hanya kepada Allah-lah kami memohon petunjuk, dan dengan tidak mengharapkan sesuatu apapun yang bisa diberikan oleh mahluk-Nya.


Melalui tulisan ini, ana ingin mencurahkan segenap isi hati yang selama ini telah membeku karena selalu tertahan, dan mengungkapkan bahwa betapa mulianya islam yang selama ini telah kita kotori dengan perilaku dan pemikiran yang sempit dalam memandangnya, serta berusaha membuka mata kaum muslimin hingga terbelalak dengan mengetahui keluhuran nilai-nilai Islam.

Diantara keluhuran nilai Islam adalah betapa tingginya penghargaan yang diberikan terhadap rasa sayang dan cinta antara sesama muslim, penghargaan yang tinggi terhadap toleransi. Betapa Islam telah meniggikan rasa saling menghormati diantara sesama muslim, menjunjung sikap saling menghargai hak dan kewajiban manusia. Dan Islam bukanlah Agama yang suka memaksakan kehendak kepada orang lain, bukan pula islam itu yang suka melecehkan hak orang lain.

Namun sangat disayangkan, dengan menggunakan alasan Islam ini pula, ada sebagian orang yang memandang rendah orang lain, dan karena alasan islam ini pula ada sebagian orang yang menghinakan sebagian yang lain, dan sangat disayangkan juga, kerena diatas nama Islam ini pula ada sebagian orang yang sama sekali membenci, menjauhkan diri, bahkan menganggap najis sebagian umat Islam yang lain, Naudzubillahi.

Saudara-saudaraku, Bahwa sesungguhnya sikap menghargai, menghormati, dan toleransi itu sangat dianjurkan. Bahkan Islam adalah agama yang sangat menjunjung Toleransi dan rasa cinta antara sesama muslim. Yang kemudian konsep kecintaan ini kita kenal dengan sebutan Al-Ukhuwwah Al-Islamiyyah, Dengan manyandarkan definisi Toleransi sebagai sikap menghormati dan memberikan hak pada orang lain sesuai dengan haknya.

Kemudian yang menjadi pertanyaan apakah boleh kita memberikan toleransi terhadap orang meyakini Din selain islam? Maka ana akan menjawab sesuai dengan yang disampaikan Allah tentang sikap toleransi ini didalam surat Al-kaafirun "Lakum diinukum walyadiin" Bagimu agamamu dan bagiku agamaku. Namun sikap toleransi yang Islam berikan dalam hal ini, bukan berarti adalah sebuah pembenaran untuk beribadah bersama agama lain ataupun mengakui kebenaran agama selain Islam. Karena sesungguhnya Allah Swt telah berfirman “Innaddina Indallahil Islam” Sesungguhnya agama yang di ridhoi Allah hanyalah Al-Islam.

Dan apakah boleh bertoleransi terhadap orang yang memiliki pemahaman tentang suatu hukum Islam yang berbeda dengan pemaham kita? Maka saudara-saudaraku, Sesungguhnya Allah Swt telah menurunkan Al-Quran al-Karim dengan menggunakan ayat-ayat yang bersifat Muhkamat (Jelas dan tegas) dan juga ayat yang bersifat Mutasyabihat (Yang samar-sehingga para Ulama berbeda pendapat karenanya), ada nash-nash yang bersifat qathi' (Pasti) dan adapula nash yang Zhanni (lemah). Dan seandainya saja Allah Swt menginginkan agar setiap umat Islam yang ada dimuka bumi ini memiliki pemahaman yang sama tentang nash-nash yang diturunkan-Nya, maka sesungguhnya hal itu adalah sesuatu yang mudah bagi-Nya.

Ana seringkali menuliskan, bahwa perbedaan pandangan ataupun pendapat diantara manusia, adalah sesuatu yang wajar dan akan senantiasa terjadi. Perbedaan bisa terjadi karena adanya banyak faktor, diantaranya perbedaan Ilmu diantara Ulama, Perbedaan latar belakang ataupun daerah yang membedakan fatwa ulama didaerah yang satu dengan ulama didaerah lainnya. Sebagaimana juga dialami Imam Syafi'i yang memperbaharui Fatwa-fatwanya setelah pindah dari Iraq menuju Mesir.

Karena perbedaan pendapat dalam hukum Islam antara para ulama adalah keniscayaan, maka toleransi adalah suatu sikap positif dan bijaksana yang bisa diambil, dan hal inipun senantiasa dicontohkan oleh para sahabat dan para Ulama Salaf as-Sholih.

Saudara-saudaraku, janganlah diantara sesama muslim bercerai-berai, dengan memberikan Fokus yang sangat besar terhadap hal-hal yang saat ini menjadi perselisihan antara para ulama terhadap nash-nash yang Zhanni, dan kemudian membiarkan orang-orang Islam melakukan penyimpangan terhadap nash-nash yang Qathi' yang kita sepakati bersama hukumnya. Misalnya kita sangat sibuk ketika ada seorang lelaki yang menjulurkan celananya sehingga menutupi mata kaki, namun kita tidak akan bergerak dan tidak terpengaruh sama sekali ketika ada tetangga-tetangga rumah kita yang menjadi objek kristenisasi, ataupun ketika saudara-saudara muslim kita di palestina sedang dibunuh secara missal. Saudaraku, Bukan juga berarti ana bermaksud agar kita meninggalkan sama sekali hal-hal yang Zhanni ini, namun sudah selayaknya kita bersikap bijak dan professional dalam berdakwah, memprioritaskan yang hal-hal utama diatas hal-hal yang tidak utama, melebihkan alasan-alasan yang wajib diatas perihal sunnah, mendahulukan masalah ushul diantara masalah furu', mengutamakan ukhuwwah diantra muslim diatas khilaf dan perbedaan pendapat diantara para ulama.

Ana memberikan sebuah contoh yang terjadi, Misal adanya perbedaan pendapat diantara para ulama tentang hukumnya wanita memakai cadar (Penutup muka). sebagian orang yang mewajibkan cadar dengan anggapan bahwa pendapat inilah yang paling benar dan tidak mengandung kesalahan didalamnya, dan terkadang mereka akan menjadi sangat tidak menyukai terhadap orang lain yang memiliki pendapat berbeda dalam hal ini. Padahal ini adalah termasuk dari salah satu yang diperselisihkan ulama. Satu hal yang ingin ana sampaikan, bahwa kita harus mengingat walaupun para ulama yang tidak kita sepakati ijtihad mereka adalah tidak ma'shum dan ijma' mereka tidak absolut, namun ijma' mereka tidaklah boleh sama sekali kita remehkan, seperti ada sebagian orang yang mengatakan keputusan (ijma') yang tidak mereka sepakati itu terjadi karena terpelesetnya lidah ulama, atau sebagainya.

Dan yang terakhir, Bolehkah memberikan toleransi terhadap suatu kemaksiatan terhadap Allah Swt? Tentu saja kemaksiatan dalam artian umum tidak akan kita berikan toleransi. Namun adapula Kemaksiatan yang sifatnya pasti, karena didukung oleh nash yang qathi', juga didukung oleh kesepakatan (jumhur) ulama bahwa hukumnya adalah maksiat. maka memberikan toleransi terhadap kemaksiatan semacan ini adalah tertolak dan tidak diterima. Segaimana tidak ada toleransi yang diberikan Abu Bakar ra terhadap orang-orang muslim yang saat itu menolak untuk mengeluarkan Zakat, padahal perintah zakat adalah perintah yang jelas dan tegas hukumnya didalam Al-Quran. Sedangkan sesuatu yang hukumnya menurut sebagian ulama adalah maksiat (Misal Bid'ah tidak berpartai) sementara sebagian ulama yang lain menghukumi Mubah, Maka bertoleransi dalam perbedaan ini adalah baik dan dianjurkan. Dan kemudian lebih memprioritaskan ukhuwah dan rasa saling menyayangi diatas hal yang menjadi selisih diantara ulama salaf, dan adalah lebih utama.

Allah Swt pun menyampaikan secara tersirat didalam Al-Quran tentang keniscayaan terjadinya perbedaan ini “Berilah kabar gembira kepada hamba-hambaKu (yaitu) mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti yang terbaik. Mereka itulah yang diberi petunjuk oleh Allah dan merekalah orang-orang yang berakal.” (Az-Zumar:7-8)

Hadanallahu wa iyyakum ajma’in, wawaffaqana lima yuhibbuhu wayardha-hu, wa-a’anana ‘ala imtitsali dzalika.

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan hidayah kepada kita seluruhnya, memberikan taufiq-Nya kepada kita untuk menjalani segala hal yang dicintai dan diridhai-Nya dan memberikan pertolongan untuk menjalani itu semua. Amin.

Dari Saudaramu,


Al-Fakir ilallah
Fitra..


Wallahualambishowab